Dari pada nganggur lebih baik nulis cerita nglantur.. biar ngalor kidul, yang penting saya terhibur...
Ini foto sebenare sudah lama BGT... Diambil Pas waktu nikahane Mbak PIPIT kira2 bulan juni 2013 silam..
"Pernikahan I Generasi II"
Pernikahan Mbak PIPIT ini saya "anggap" sebagai pernikahan pertama dari generasi kedua KAKUNG YASIR.. Sebenarnya Mbak PIPIT bukanlah cucu Kakung pertama yang sudah menikah, Di Tanah Merauke nan Jauh disana ada cucu Kakung lagi yang juga sudah menikah kira2 pada tahun 2012, namanya MBAK LIA. Tapi pada waktu MBAK LIA Nikahan kita g ada yang datang ke Merauke. Selain itu pada kenyataannya kami juga belum pernah berjumpa dengan MBAK LIA, dan saya rasa karena faktor itulah rasa kekeluargaan Generasi II JAWA dengan Generasi II MERAUKE kurang terjalin dengan baik. Bagaimanapun itu adalah fakta, dan kami Generasi II harus terus belajar dan mencari cara agar Rasa Kasih sayang dan kekeluargaan kami tidak pernah berkurang meski Jarak kami terpisah nan jauh. Suatu hari nanti Pasti kita GENERASI II bisa berkumpul bersama.
Kembali ke TOPIK..
Menurut saya pernikahan Mbak PIPIT sangatlah Berkesan. Benar-benar ada suka dan Duka yang menyertai Pernikahan MBAK PIPIT. Ada Tangis dan Tawa. Rasa Kehilangan, Rasa Kebersamaan, Saling menguatkan, saling menyayangi... dan mungkin inilah yang dinamakan KEHIDUPAN.
Saya Mulai dari kisah Dukanya.
Kira2 dua bulan sebelum Pernikahan MBAK PIPIT Kakung Meninggal dunia. Pernikahan ini adalah pernikahan pertama cucunya yang pastilah menyenangkan jika Kakung menyaksikan. Tapi Takdir berkata lain Kakung wafat sebelum MBAK menikah. Tapi saya yakin Kakung akan mendapatkan kebahagian yang Jauh lebih besar dari apa yang kami rasakan di sini.
40 hari kemudia RAFIK anggota GENERASI II juga meninggal. Meninggalnya RAFIK sangatlah memukul perasaan Keluarga kami. RAFIK meninggal di usia baru menginjak 6 tahun. Dia adalah Jagoan kecil kami. Tapi inilah Takdir TUHAN. Kita hanya bisa menjalani kehidupan ini dengan rasa iklhas dan penuh Tanggungjawab. Dan mudah-mudahan Rafik menjadi generasi ke II yang menghuni SURGA setelah Mas Infantri (Putranya Alm. Pakde IMAM), dan NANDI. Allahumma Amin.
LUpakan Kisah dukanya, Kita bahas KISAH SUKANYA..
Bagi keluarga kami pernikahan MBAK PIPT sangat spesial. Ini adalah yang pertama. Dan kami semua berkumpul saling membantu satu dengan yang lain untuk menyukseskan Acara Pernikahan MBAK.
Ada rasa KEBERSAMAAN
LUCU-LUCUAN....
Eksis Mumpung Lagi Gak da BINI...
JUGA WAKTU YANG SAKRAL SEPERTI FOTO DI ATAS
Dan Juga Menghibur PAK WAKIT yang berduka
Abu
Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitu mengherankan jika
Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.
Diantara sekian
banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas
mengatakan begini dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada
Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang itu pertama mulai bertanya,
“Manakah yang lebih
utama, orang yang mengerjakan dosa2 besar atau orang yang mengerjakan dosa2
kecil?”
“Orang yang
mengerjakan dosa2 kecil.”jawab Abu Nawas.
“Mengapa ?” kata
orang pertama.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan.” kata Abu Nawas.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan.” kata Abu Nawas.
Orang pertama puas
karena ia memang yakin begitu.
Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. Red s/d diatas.
Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. Red s/d diatas.
“Orang yang tidak
mengerjakan keduanya”. Jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata
orang kedua.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan”. kata Abu Nawas.
Orang kedua langsung bisa mencerna dan memahami jawaban Abu Nawas tersebut.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan”. kata Abu Nawas.
Orang kedua langsung bisa mencerna dan memahami jawaban Abu Nawas tersebut.
Orang ketiga pun
bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti diatas. Abu Nawas lalu menjawab;
“Orang yang mengerjakan dosa2 besar”.
“Mengapa?” kata orang ketiga.
“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu”. jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang ketiga.
“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu”. jawab Abu Nawas.
Karena belum
mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya.
“ Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”.
“ Manusia itu dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati”.
“ Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”.
“ Manusia itu dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati”.
“Apakah tingkatan
mata itu?” tanya murid Abu Nawas. “ Anak kecil yang melihat bintang dilangit,
ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata”.
“Apakah tingkatan
otak?” tanya murid Abu Nawas.
“ Orang pandai yang
melihat bintang, ia mengatakan bintang itu besar karena ia memiliki
pengetahuan.” jawab Abu Nawas.
“Lalu apakah
tingkatan hati itu?” tanya murid Abu Nawas.
“ Orang pandai dan
mengerti yang melihat bintang di langit. Ia tetap mengatakan bintang itu kecil
walaupun tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada
sesuatu apapun yang besar, melainkan dengan ke Maha Besaran Allah.”
kini murid Abu
Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban
Yang berbeda. Ia bertanya lagi.
“ Wahai guru,
mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?”
“ Mungkin?” jawab
Abu Nawas.
“Bagaimana
caranya?” tanya murid Abu Nawas ingin tahu.
“ Dengan merayuNya
melalui pujian dan doa.” kata Abu Nawas.
“Ajarkanlah doa itu
padaku wahai guru.” pinta murid Abu Nawas.
“Doa itu adalah:
Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa ‘alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil ‘azhimi.
Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa ‘alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil ‘azhimi.
Artinya : “Wahai
Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan
kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta
ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni
dosa-dosa besar.”
Sumber: Berbagi dan Belajar
Islam yang Sebenarnya
Konon di Zaman Raja Harun Al
Rasyid dahulu tidak ada yang namanya WC, yang ada cuma
sungai atau kali untuk buang hajat. Suatu ketika sang raja merasa perutnya
sedang sakit, dan sudah tidak bisa lagi untuk diajak kompromi. Seketika itu
juga raja meminta para pengawal untuk mendampinginya ke sungai demi menuntaskan
hajatnya.
Kebetulan sungai disitu mengalir ke arah
selatan. Dan Sudah masyhur di kalangan masyarakat , jika sang raja sedang buang
hajat di sungai, maka rakyat dilarang keras berak di sebelah utaranya raja,
karena di khawatirkan kotoran tersebut akan mengalir ke arah selatan dan
mengenai badan sang raja. Dan kalau ada yang melanggar, maka akan mendapatkan
hukuman berat dari sang raja.
Namun kali ini, peraturan tersebut tidak
diindahkan oleh sang tokoh kocak Abu Nawas. Abu Nawas dengan santainya juga
ikut berak di sebelah utara agak jauh dari posisi sang raja, sehingga sang raja
tidak melihatnya.
Disaat asyik buang hajat, tiba – tiba
saja ada suatu benda yang menyenggol pantat sang raja, tanpa berpikir panjang,
benda tersebut langsung dipegang dan dilihat oleh sang raja, alangkah
terkejutnya, ternyata benda tersebut adalah kotoran manusia. kontan saja hal
itu membuat sang raja naik pitam.
seketika itu juga raja menyuruh para
pengawalnya untuk menelusuri sungai di sebelah utara, dan menangkap orang yang
berak. Benar saja, di sebelah utara agak jauh dari posisi sang raja, terlihat
sosok Abu Nawas sedang berak dengan santainya. Saat itu juga para pengawal
langsung menangkap dan membawanya ke hadapan raja untuk dihukum.
Ketika dihadapkan pada raja, Abu Nawas memprotes pada raja kenapa
dia ditangkap dan akan dihukum.
” Apakah kamu tidak tahu wahai Abu
Nawas, perbuatanmu itu telah melecehkan privasiku, kamu telah menginjak – injak
harga diriku, kamu memang tidak punya tata krama" bentak sang raja.
“Berani – beraninya kamu berak di
sebelah utaraku, sehingga kotoranmu mengenai badanku, selama ini tidak pernah
seorangpun dari rakyatku berani melakukan perbuatan sepertimu wahai Abu
Nawas" Tambah sang raja dengan nada sangat kesal.
“Kini kamu harus menerima hukuman
dariku” sambung raja.
“Maaf, tunggu sebentar wahai raja ” sela
Abu Nawas.
“Ada apa?" tanya raja, “kali ini
tidak ada lagi ampun bagimu Abu nawas”.
“Tunggu sebentar, tolong beri saya
kesempatan untuk menjelaskannya. Saya melakukan itu semua, karena saya sangat
menghormati engkau wahai raja” jelas Abu Nawas.
Mendegar hal itu, Raja Harun Al Rasyid
langsung sedikit tertegun dengan apa yang disampaikan oleh Abu Nawas.
“Mengapa perbuatan seperti itu, Kau
bilang malah untuk menghormati Aku???” tanya raja dengan ekspresi agak sedikit
keheranan.
“Ya benar raja” jawab Abu Nawas dengan
tegasnya.
Rajapun semakin keheranan dan penasaran
dengan abu nawas.
“Baiklah kali ini aku kasih kamu
kesempatan untuk menjelaskan alasannya, jika alasanmu tidak masuk akal, maka
Aku tidak segan – segan untuk memperberat hukumanmu.” tegas raja.
“Baiklah raja, begini alasannya. Raja
tahu, selama ini jika Raja tengah mengadakan perjalanan dengan rakyat atau
bersama pengawal, tidak ada satupun dari rakyat atau pengawal raja yang berani
mendahului jalannya raja, begitu juga dengan Saya, ketika Saya ikut rombongan
raja, posisi Saya ketika berjalan tidak berani mendahului raja, itu Saya
lakukan karena Saya menjaga tata krama dan sopan santun kepada raja” jawab Abu
Nawas.
“Ya bagus, namun apa hubungannya dengan
perbuatanmu yang sekarang ini??” tanya raja dengan nada semakin penasaran
dengan akal cerdik Abu Nawas.
“Begini raja, saya menghormati engkau
tidak setengah – setengah, melainkan saya menghormati engkau dengan sepenuh
hati. Ketika saya buang hajat, saya memilih di sebelah utara raja, dan sama
sekali, saya tidak berani berak berada di sebelah selatan raja. Hal ini saya lakukan
karena saya kuatir, jika saya berak di sebelah selatan raja, maka nanti kotoran
saya berlaku tidak sopan kepada kotoran raja, karena sudah berani berjalan
mendahuli kotoran raja. sehingga saya memilih berak di sebelah utara, agar
supaya kotoran saya tidak sampai mendahului kotoran raja. Ini semua saya
lakuakan tidak lain, hanya demi Tata krama saya kepada kotoran raja.
Terus terang wahai baginda, kotoran saya
tidak berani mendahului kotoran raja, karena hal itu merupakan perbuatan yang
tak terpuji. Ketika raja berjalan, saya tidak berani mendahului jalan raja,
begitu juga ketika kotoran raja mengalir, maka kotoran saya pun tidak berani
mendahului kotoran raja. ini semua saya lakuakan karena sopan santun dan tata
krama saya yang sepenuh hati kepada raja.” jelas ABu Nawas.
“Malah yang seharusnya diberi hukuman
bukan saya wahai raja, melainkan rakyat engkau yang tidak punya tata krama,
karena mereka berani berak di sebelah selatanmu, sehingga kotoran mereka
mendahului kotoranmu“ jelas Abu Nawas.
Mendengar penjelasan Abu Nawas, raja pun
tersennyum. dia tidak jadi marah dan menghukum Abu Nawas, tetapi oleh sang raja
Abu Nawas malah diberi hadiah karena alasannya masuk akal.
Sejak kejadian itu, raja pun
menginstruksikan kepada rakyatnya untuk berak di sebelah utara sang raja, demi
menjaga kesopanan kepada kotoran sang raja.
Sumber : http://www.facebook.com/notes/cerita-abu-nawas/abu-nawas-buang-hajat-besar/190528161018871
Abu Nawas kaget bukan main ketika seorang
utusan Baginda Raja datang ke rumahnya. Ia harus menghadap Baginda secepatnya.
Entah permainan apa lagi yang akan dihadapi kali ini. Pikiran Abu Nawas
berloncatan ke sana kemari. Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu
Nawas dengan sebuah senyuman."Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin." kata Baginda Raja memulai pembicaraan.
"Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil." tanya Abu Nawas.
"Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya." kata Baginda. Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti, tetapi ia bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.
Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat. Sedangkan angin tidak. Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. Ia yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihariapi. Dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.
Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar - benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap. Mungkin sudah takdir; kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda, Ia berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.
"Bukankah jin itu tidak terlihat?" Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. ia berjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai di rumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian manuju istana. Di pintu gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya. Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas.
"Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas? "
"Sudah Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu. Baginda menimbang-nimang batol itu.
"Mana angin itu, hai Abu Nawas?" tanya Baginda. Di dalam, Tuanku yang mulia." jawab Abu Nawas penuh takzim. "Aku tak melihat apa-apa." kata Baginda Raja.
"Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu." kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka. Baginda mencium bau busuk. Bau kentut yang begitu menyengat hidung.
"Bau apa ini, hai Abu Nawas?" tanya Baginda marah. "Ampun Tuanku yang mulia, tedi hamba buang angin dan hamba. masukkan ke dalam botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol." kata Abu Nawas ketakutan.
Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal. "Heheheheh kau memang pintar Abu Nawas."
Tapi... jangan keburu tertawa dulu, dengar dulu apa kata Abu Nawas. "Baginda...!"
"Ya Abu Nawas!"
"Hamba sebenarnya cukup pusing memikirkan cara melaksanakan tugas memenjarakan angin ini."
"Lalu apa maksudmu Abu Nawas?"
"Hamba. minta ganti rugi."
"Kau hendah memeras seorang Raja?"
"Oh, bukan begitu Baginda."
"Lalu apa maumu?"
"Baginda harus memberi saya hadiah berupa uang sekedar untuk bisa belanja dalam satu bulan."
"Kalau tidak?" tantang Baginda.
"Kalau tidak... hamba akan menceritakan kepada khalayak ramai bahwa Baginda telah dengan sengaja mencium kentut hamba!"
"Hah?" Baginda kaget dan jengkel tapi kemudian tertawa terbahak-bahak. "Baik permintaanmu kukabulkan!"
Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda
Harun al Rasyid tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada
rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa
pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal.
Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat
menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka
hukuman yang menjadi akibatnya.
Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.
Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.
Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,
“Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?” “Telur.” jawab peserta pertama.
“Apa alasannya?” tanya Baginda.
“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.” kata peserta pertama menjelaskan.
“Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?” sanggah Baginda.
Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara
Kemudian peserta kedua maju. la berkata,
“Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan.”
“Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda.
“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami.” kata peserta kedua dengan mantap.
“Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.
Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;
“Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur.”
“Sebutkan alasanmu.” kata Baginda.
“Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata peserta ketiga meyakinkan.
“Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada.” kata Baginda memancing.
“Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri.” peserta ketiga berusaha menjelaskan.
“Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?”
Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara.
Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, “Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam.”
“Coba terangkan secara logis.” kata Baginda ingin tahu “Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam.” kata Abu Nawas singkat.
Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas.
Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.
Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.
Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,
“Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?” “Telur.” jawab peserta pertama.
“Apa alasannya?” tanya Baginda.
“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.” kata peserta pertama menjelaskan.
“Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?” sanggah Baginda.
Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara
Kemudian peserta kedua maju. la berkata,
“Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan.”
“Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda.
“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami.” kata peserta kedua dengan mantap.
“Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.
Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;
“Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur.”
“Sebutkan alasanmu.” kata Baginda.
“Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata peserta ketiga meyakinkan.
“Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada.” kata Baginda memancing.
“Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri.” peserta ketiga berusaha menjelaskan.
“Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?”
Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara.
Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, “Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam.”
“Coba terangkan secara logis.” kata Baginda ingin tahu “Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam.” kata Abu Nawas singkat.
Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas.

Abu Nawas, yang tidak diundang ke istana untuk upacara pemberian nama bayi lelaki yang diselenggarakan oleh Baginda Sultan, nekad datang. Ia tidak setuju dengan nama Fulan yang akan diberikan kepada bayi itu.
“Biasanya orang yang bernama Fulan itu bodoh,” katanya.
Kepada Sultan yang memergoki dintara para orang besar yang di
udang, Abu Nawas bertanya, “Tidak bolehkah nama itu
diganti?”
Sultan, yang sudah gondok, menanyakan alasannya dan minta
bukti bahwa orang yang namanya Fulan itu bodoh, “Coba buktikan, jika tidak berhasil, aku bunuh kau.”
“Boleh, tuanku…” jawab Abu Nawas. “Pertama, tentang Kadi
Fulan dahulu. Kedua, ya, hamba mohon uang sekitar 30 ringgit serta minta tangguh empat hari.”
“Lain daripada itu, kamu ingin minta makan bersama-sama di sini,
bukan?” tanya baginda sambil
tersenyum. “Makanlah dulu, nanti kuberikan uang itu.”
tersenyum. “Makanlah dulu, nanti kuberikan uang itu.”
Esok harinya selepas subuh, pergilah Abu Nawas ke rumah Kadi membawa uang sepuluh ringgit, saat itu dilihatnya pak Kadi sedang dzikir dengan asyiknya. Setelah memberi salam ia pun duduk di
samping Kadi, ketika Kadi itu memejamkan mata, Abu Nawas segera menyelipkan uang ke bawah sajadah si Kadi.
samping Kadi, ketika Kadi itu memejamkan mata, Abu Nawas segera menyelipkan uang ke bawah sajadah si Kadi.
“Hai, Abu Nawas, darimana saja kamu selama ini, apa maksudmu
datang kemari?” tanya kadi setelah
selesai berzikir.
selesai berzikir.
“Hamba dari rumah saja, hendak bertemu tuan, karena sudah
rindu,” jawab Abu Nawas.
Ketika sedang bercakap-cakap itu, Abu Nawas tertawa terbahak-bahak
seorang diri, tentu saja pak Kadi terheran-heran. “Kenapa kamu mendadak tertawa?”
“Tidak apa-apa,” kata Abu Nawas. Hamba mendengar burung itu
mengatakan bahwa tuan punya uang sepuluh ringgit di bawah sajadah ini.”
Maka disibaklah sajadah itu dan ternyata di bawahnya memang ada
duit sepuluh ringgit.Tentu saja Kadi
itu senang hatinya, tak lama kemudia setelah Abu Nawas mohon pamit, ia minta agar Abu Nawas sering-sering datang ke rumahnya.
“Insya Allah jika tak ada aral melintang,” jawab Abu Nawas.
***
TERNYATA esok harinya Abu Nawas datang lagi. Lalu dilakukan hal
yang serupa seperti kemarin.
Demikian pula pada hari yang
ketiga hingga uang yang diberikan
Raja pun habis. Dengan demikian
kadi itu pun yakin dan percaya
atas semua ucapan Abu Nawas.
Hari keempat ketika mereka berdua
sedang bercakap-cakap, terdengarlah suara burung itu. Namun kali ini Abu Nawas menangis tersedu-sedu. “Apa yang kau tangisi, Abu Nawas?” tanya pak Kadi.
sedang bercakap-cakap, terdengarlah suara burung itu. Namun kali ini Abu Nawas menangis tersedu-sedu. “Apa yang kau tangisi, Abu Nawas?” tanya pak Kadi.
“Burung itu mengatakan, tuan akan mati,” kata Abu Nawas.
Kadi itu gemetar, wajahnya pucat pasi, ia terdiam lama, “menurut
kamu apa yang harus aku lakukan?
Apa ikhtiarmu, aku menurut saja,” kata pak Kadi.
Apa ikhtiarmu, aku menurut saja,” kata pak Kadi.
“Supaya omongan burung itu tidak menjadi kenyataan, mulai sekarang
hendaklah tuan berpura-pura mati,” jawab Abu Nawas yang segera mengabarkan ihwal kematian pak Kadi itu ke masyarakat.
Maka orang-orang pun kaget mendengar
kematian yang mendadak tersebut. “Mayat” itu segera dimandikan sendiri oleh Abu Nawas, kemudian di kafani, lalu di masukkan ke dalam keranda dan disalatkan. Ketika mayat dibawa ke kuburan, jalannya memang lewat dekat Istana, sehingga baginda
mendengar bacaan kalimat tauhid yang dikumandangkan secara beramai-ramai oleh para pelayat di
sepanjang jalan.
mendengar bacaan kalimat tauhid yang dikumandangkan secara beramai-ramai oleh para pelayat di
sepanjang jalan.
“Mayat siapa yang di usung itu?” tanya Baginda
Sultan.
Dengan segera Abu Nawas menjawab pertanyaan tersbut, “Ya
tuanku, itu mayat Kadi Fulan.”
Sultan Harun Al-Rasyid terperanjat. “Hai Abu Nawas, bawa
masuk kemari jenazah itu.”
Akhirnya, dibawalah jenazah itu ke hadapan Baginda. “Wahai sahabatku,
apa yang menyebabkan
kematianmu, aku sama sekali tidak mendengarnya.”
kematianmu, aku sama sekali tidak mendengarnya.”
Setelah keranda di buka oleh Baginda, tampaklah Kadi itu
mengerdipkan matanya malu-malu.
“Hai, Abu Nawas, “Kata Baginda , “Mengapa kadi ini yang masih
hidup kamu katakan sudah mati?”
“Itulah tanda kebodohan orang yang bernama Fulan, Tuanku,” kata
Abu Nawas.
Baginda pun heran melihat kelakukan Abu Nawas, demikian
pula orang-orang yang mengiringi jenazah itu. Sebagian memuji kehalusan tipu daya Abu Nawas, namun sebagian lagi menyumpahi,
karena kejenakaan yang ia lakukan telah benar-benar kelewat batas.
karena kejenakaan yang ia lakukan telah benar-benar kelewat batas.
Dengan kejadian itu, baginda semakin yakin akan kecerdikan Abu
Nawas, sehingga berniat memberi
hadiah yang layak kepadanya. Semua dendam nya hilang, berganti menjadi belas kasih. Namun
demikian baginda akan tetap mencoba kelebihan abunawas.
hadiah yang layak kepadanya. Semua dendam nya hilang, berganti menjadi belas kasih. Namun
demikian baginda akan tetap mencoba kelebihan abunawas.
by Abu Maulani
Pada
suatu hari Raja Harun Ar- Rasyid sedang galau dengan sikap Abu Nawas. Beberapa
kali Abu Nawas telah membuatnya malu di depan para pejabat kerajaan. Berlatar
belakang dendam inilah akhirnya Raja hendak membuat jebakan terhadap Abu Nawas.
Jika Abu Nawas gagal menghadapi
jebakan tersebut, maka hukuman akan diberikan kepadanya.
jebakan tersebut, maka hukuman akan diberikan kepadanya.
Maka
dipanggillah Abu Nawas untuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid. Setelah melewati
beberapa
prosedur, sampai juga Abu Nawas di istana kerajaan. Sang raja lalu memulai pertanyaannya,
prosedur, sampai juga Abu Nawas di istana kerajaan. Sang raja lalu memulai pertanyaannya,
"Wahai
Abu Nawas, di depan mejaku itu ada sepanggang daging ayam yang lezat dan enak
dilahap, tolong segera ambilkan."
Abu
Nawas tampak bingung dengan perintah tersebut, karena tak biasanya dia disuruh mengambilkan
makanan raja.
"Mungkin
raja ingin menjebakku, aku harus waspada," kata Abu Nawas dalam hati.
Abu Nawas pun akhirnya menuruti perintah itu. Setelah mengambil ayam panggang sang raja, Abu Nawas kemudian memberikannya kepada raja. Namun, sang raja belum langsung menerimanya, ia bertanya lagi,
Abu Nawas pun akhirnya menuruti perintah itu. Setelah mengambil ayam panggang sang raja, Abu Nawas kemudian memberikannya kepada raja. Namun, sang raja belum langsung menerimanya, ia bertanya lagi,
"Abu
Nawas, di tangan kamu ada sepotong ayam panggang lezat, silahkan dinikmati."
Begitu
Abu Nawas hendak menyantap ayam panggang tersebut, tiba-tiba raja berkata lagi,
"Tapi
ingat Abu Nawas, dengarkan dulu petunjuknya. Jika kamu memotong paha ayam itu,
maka aku akan memotong pahamu dan jika kamu memotong dada ayam itu, maka aku akan
memotong dadamu. Tidak hanya itu saja, jika kamu memotong dan memakan kepala ayam itu, maka aku akan memotong
kepalamu. Akan tetapi kalau kamu hanya mendiamkan saja ayam panggang itu, akibatnya
kamu akan aku gantung."
kamu akan aku gantung."
Abu
Nawas merasa bingung dengan petunjuk yang dititahkan rajanya itu. Dalam kebingungannya,
ia semakin yakin jika hal itu hanya akal-akalan Raja Harun saja demi untuk
menghukumnya. Tidak hanya Abu Nawas saja yang tegang, tapi juga semua pejabat
kerajaan yang hadir di istana tampak tegang pula. Mereka hanya bisa menebak
dalam hati tentang maksud dari perintah rajanya itu. Hampir sepuluh menit
lamanya Abu Nawas hanya membolak-balikkan ayam panggang itu. Sejenak suasana
menjadi hening. Kemudian Abu Nawas mulai mendekatkan ayam panggang itu tepat di
indera penciumannya. Para hadirin yang datang atas undangan raja mulai bingung
dan tidak mengerti apa yang dilakukan Abu Nawas. Kemudian terlihat Abu Nawas
mendekatkan indera penciumannya tepat di bagian pantat daging ayam bakar yang
kelihatan sangat lezat itu. Beberapa menit kemudian ia mencium bagian panta
ayam bakar itu. Setelah selesai mencium pantat ayam bakar itu, kemudian Abu Nawas
berkata,
"Jika
saya harus memotong paha ayam ini, maka Baginda akan memotong pahaku, jika saya
harus memotong dada ayam ini, maka Baginda akan memotong dadaku, jika saya
harus memakan dan memotong kepala ayam ini, Baginda akan memotong kepalaku,
tetapi coba lihat, yang saya lakukan adalah mencium pantat ayam ini," kata
Abu Nawas.
"Apa
maksudmu, wahai Abu Nawas," tanya Baginda.
"Maksud
saya adlah kalau saya melakukan demikian maka Baginda juga akan membalasnya demikian,
layaknya ayam ini. Nah, saya hanya mencium pantat ayam panggang ini saja, maka
Baginda juga harus mencium pantat ayam panggang ini pula," jelas Abu Nawas.
Sontak saja penjelasan Abu Nawas itu membuat suasana yang tegang menjadi tampak tak menentu.
Para pejabat yang hadir menahan tawa, tetapi ragu-ragu karena takut dihukum raja. Sementara
itu, raja yang mendengar ucapan Abu Nawas mulai memerah mukanya. Raja tampak malu untuk kesekian kalinya. Untuk menutupi rasa malunya itu, beliau memerintahkan Abu Nawas untuk
pulang dan membawa pergi ayam panggang yang lezat itu.
Sontak saja penjelasan Abu Nawas itu membuat suasana yang tegang menjadi tampak tak menentu.
Para pejabat yang hadir menahan tawa, tetapi ragu-ragu karena takut dihukum raja. Sementara
itu, raja yang mendengar ucapan Abu Nawas mulai memerah mukanya. Raja tampak malu untuk kesekian kalinya. Untuk menutupi rasa malunya itu, beliau memerintahkan Abu Nawas untuk
pulang dan membawa pergi ayam panggang yang lezat itu.
"Wahai
Abu Nawas, cepat pulanglah, jangan sampai aku berubah pikiran," kata raja.
Setibanya
di rumah, ia mengundang beberapa tetangganya untuk berpesta ayam panggang.
Untuk kesekian kalinya Abu Nawas sukses
mempermalukan Raja Harun Ar- Rasyid di depan para pejabat
kerajaan.
by abu maulani
kerajaan.
by abu maulani
Hari itu puasa Ramadhan menjelang hari keenam. Seperti
biasa, Abu Nawas duduk di beranda depan gubugnya sambil menunggu bedug maghrib
tiba. Sambil memandang langit biru yang mulai nampak senja, Abu Nawas berpikir
bagaimana agar dapur rumahnya agar tetap mengepul.
Sementara itu ada seorang tuan tanah yang rumahnya tak jauh dari rumah Abu Nawas. Sebagai tuan tanah tentu saja mempunyai rumah yang besar. Lengkap dengan seperangkat gudang makanan,lahan peternakan dan kamar. Hampir setiap orang yang berada didaerah itu bahkan Abu Nawas sendiri bekerja dengan tuan tanah itu,bekerja keras setiap hari hari tetapi dengan hasil yang sedikit. Dan bila meminjam bunga denga dirinya maka harus mengembalikan dengan bunga yang sangat tinggi. Tingkat penghisapanya sangat tinggi. Dan sebagai mana tuan tanah, dia mempunyai sifat yang pelit, kikir, tamak dan loba.
Sementara itu ada seorang tuan tanah yang rumahnya tak jauh dari rumah Abu Nawas. Sebagai tuan tanah tentu saja mempunyai rumah yang besar. Lengkap dengan seperangkat gudang makanan,lahan peternakan dan kamar. Hampir setiap orang yang berada didaerah itu bahkan Abu Nawas sendiri bekerja dengan tuan tanah itu,bekerja keras setiap hari hari tetapi dengan hasil yang sedikit. Dan bila meminjam bunga denga dirinya maka harus mengembalikan dengan bunga yang sangat tinggi. Tingkat penghisapanya sangat tinggi. Dan sebagai mana tuan tanah, dia mempunyai sifat yang pelit, kikir, tamak dan loba.
Tuan tanah ini mendengar kabar bahwa Abu Nawas mempunyai suatu
kepandaian yang aneh. Bila ia meminjam sesuatu maka akan dikembalikan secara
lebih, katanya pinjamannya itu beranak. Seperti meminjam seekor ayam maka ayam
itu akan dikembalikan dua karena ayam itu beranak. Menarik juga kepandaian Abu
Nawas ini pikir sang tuan tanah. Tuan tanah lalu berpikir agar Abu Nawas segera
meminjam darinya.
Secara kebetulan sore itu Abu Nawas ingin meminjam 3 butir telur
kapada tuan Tanah itu. Tuan tanah tentu saja senang memberikan pinjaman kepada
Abu Nawas karena pinjaman itu akan menjadi banyak karena beranak. Malahan tuan
tanah itu menanyakan kepada abu nawas apakah ingin meminjam yang lain. Abu
Nawas menjawab tidak perlu. Dia hanya butuh 3 butir telur. Tuan tanah itu bertanya
lagi dengan Abu Nawas kapan telur itu akan beranak?Abu nawas menjawab itu
tergantung dengan keadaan.
Lima hari kemudian, Abu Nawas kembali ke rumah tuan tanah itu.
Mengembalikan telur menjadi 5 butir. Melihat 5 butir telur betapa senangnya
Tuan tanah itu. Tuan tanah lalu menanyakan kepada abu nawas apakah ia akan
meminjam lagi. Abu Nawas lalu meminjam piring tembikar sebanyak 2 buah. Tuan
tanah itu memberikan dengan senang hati dan berharap piringnya itu menjadi
banyak.
Lima hari kemudian Abu Nawas datang dengan membawa 3 piring tembikar. Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hatinya cukup gembira karena dua piring dulu hanya melahirkan 1 anak saja. Tak apa pikir sang tuan tanah karena bisa saja orang mempunyai anak tunggal bahkan tidak memiliki anak.
Lima hari kemudian Abu Nawas datang dengan membawa 3 piring tembikar. Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hatinya cukup gembira karena dua piring dulu hanya melahirkan 1 anak saja. Tak apa pikir sang tuan tanah karena bisa saja orang mempunyai anak tunggal bahkan tidak memiliki anak.
Abu Nawas dan Tuan tanah itu sama – sama senang. Maka dari itu
tuan tanah itu meminjamkan uang senilai 1000 dinar. Jumlah yang sangat besar,
gaji buat seluruh karyawan dan pekerjanya selama 1 bulan. Tuan tanah itu
berangan – angan bahwa uang yang dipinjam abu nawas nanti akan diapakan karena
akan banyak beranak. Tuan tanah itu menanti dengan tidak sabar. Ditunggu selama
lima hari, abu nawas tidak kunjung datang. Hampir satu bulan, Abu nawas juga
tidak datang. Saat tuan tanah akan mendatangi rumah Abu Nawas dengan
centengnya, Abu Nawas datang. Mulanya tuan tanah gembira tapi sesudah Abu Nawas
menjelaskan persoalannya, bukan main marahnya tuan tanah itu.
“Sayang
sekali tuan. Uang yang saya pinjam itu, bukannya beranak, malah tiga hari
kemudian mati mendadak. ”Mendengar kata- kata itu betapa geramnya tuan tanah.
Hampir saja Abu Nawas dihajar centeng tuan tanah. Untung saja ada teman – teman
abu nawas yang baru pulang dari bekerja.
Tuan tanah itu mengadukan kepada pengadilan. Tuan tanah itu berharap Abu Nawas akan digantung atau bahkan dihukum rajam. Dan, pengadilan pun digelar. Abu Nawas membeberkan semua duduk permasalahanya. Demikian juga tuan tanah itu menjelaskan. Pengadilan pun memutuskan cukup rasional (masuk akal). Kalau sesuatu bisa beranak sudah pasti bisa mati. Dan Abu nawas telah menjalankan lakonnya dengan baik. Adapun tuan tanah yang tamak itu telah tertipu karena wataknya sendiri yang kikir, tamak, pelit.
Tuan tanah itu mengadukan kepada pengadilan. Tuan tanah itu berharap Abu Nawas akan digantung atau bahkan dihukum rajam. Dan, pengadilan pun digelar. Abu Nawas membeberkan semua duduk permasalahanya. Demikian juga tuan tanah itu menjelaskan. Pengadilan pun memutuskan cukup rasional (masuk akal). Kalau sesuatu bisa beranak sudah pasti bisa mati. Dan Abu nawas telah menjalankan lakonnya dengan baik. Adapun tuan tanah yang tamak itu telah tertipu karena wataknya sendiri yang kikir, tamak, pelit.
Sebagai rakyat kecil, Abu Nawas sering menyelipkan kritikan-kritikan
lewat humor-humornya yang jenaka sehingga meski mengena, raja tetapi tak bisa
marah dibuatnya. Seperti dalam kisah ini, pasar tempat orang berdagang menjadi
heboh gara-gara celotehan Abu Nawas. “Kawan-kawan, hari ini saya sangat
membenci perkara yang haq, tetapi menyenangi yang fitnah. Hari ini saya menjadi
orang yang paling kaya, bahkan lebih kaya daripada Allah SWT,” ujar Abu Nawas.
Omongan Abu Nawas itu sungguh aneh karena selama ini dia
termasuk orang yang alim dan taqwa meski suka jenaka. Karuan saja polisi
kerajaan menangkap dan menghadapkannya kepada khalifah.
“Hai Abu Nawas, benarkah engkau berkata begitu?” tanya
khalifah.“Benar, Tuan,” ujarnya santai.
“Mengapa kau berkata begitu, sudah kafirkah engkau?”
“Saya kira Khalifah-pun sama seperti saya. Khalifah pasti membenci perkara yang haq,” ujarnya.
“Gila benar engkau,” bentak khalifah mulai marah.
“Jangan keburu marah, Khalifah. Dengarkan dulu
keterangan saya,” kata Abu Nawas meredakan marah khalifah.
“Keterangan apa yang kau dakwahkan. Sebagai seorang muslim, aku harus membela yang haq, bukan malah membencinya, tahu?” ujar khalifah geram.
“Setiap ada orang membacakan talqin, saya selalu mendengar ucapan bahwa mati itu haq, begitu juga dengan neraka. Tidakkah khalifah juga membencinya seperti aku?” katanya.
“Cerdik pula kau ini,” ujar khalifah setelah mendengar penjelasan Abu Nawas.
“Tapi apa pula maksudmu kau menyenangi fitnah?” tanya
khalifah menyelidik.
“Sebentar, Khalifah. Barangkali Anda lupa bahwa di dalam Al-Quran disebutkan bahwa harta benda dan anak-anak kita adalah fitnah. Padahal Khalifah menyenangi harta dan anak-anak Khalifah seperti saya. Benar begitu, Khalifah?”
“Sebentar, Khalifah. Barangkali Anda lupa bahwa di dalam Al-Quran disebutkan bahwa harta benda dan anak-anak kita adalah fitnah. Padahal Khalifah menyenangi harta dan anak-anak Khalifah seperti saya. Benar begitu, Khalifah?”
“Ya, memang begitu. Tapi mengapa kau mengatakan lebih
kaya daripada Allah Yang Mahakaya itu?” tanya khalifah yang makin penasaran
itu.
“Saya lebih kaya daripada Allah karena saya mempunyai
anak, sedangkan Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,”
“Itu memang benar, tetapi apa maksudmu berkata begitu di tengah pasar sehingga membuat keonaran?” tanya khalifah tak habis mengerti.
“Dengan cara begini saya akan ditangkap dan dihadapkan pada Khalifah,” jawabnya kalem.
“Apa perlunya kamu menghadapku?”
“Agar memperoleh hadiah dari Khalifah,” jawab Abu Nawas tegas.
“Dasar orang pintar,” komentar khalifah. Sidang yang semua tegang untuk mengadili Abu Nawas tersebut menjadi penuh gelak tawa. Tak lupa khalifah memberikan uang sebagai hadiah kepada Abu Nawas dan menyuruhnya meninggalkan istana. Ngeloyorlah Abu Nawas sambil menyimpan dinar di sakunya. “Alkhamdulillah, dapat rejeki,” gumamnya.
“Itu memang benar, tetapi apa maksudmu berkata begitu di tengah pasar sehingga membuat keonaran?” tanya khalifah tak habis mengerti.
“Dengan cara begini saya akan ditangkap dan dihadapkan pada Khalifah,” jawabnya kalem.
“Apa perlunya kamu menghadapku?”
“Agar memperoleh hadiah dari Khalifah,” jawab Abu Nawas tegas.
“Dasar orang pintar,” komentar khalifah. Sidang yang semua tegang untuk mengadili Abu Nawas tersebut menjadi penuh gelak tawa. Tak lupa khalifah memberikan uang sebagai hadiah kepada Abu Nawas dan menyuruhnya meninggalkan istana. Ngeloyorlah Abu Nawas sambil menyimpan dinar di sakunya. “Alkhamdulillah, dapat rejeki,” gumamnya.
Pada
suatu hari yang cerah, Raja Harun Ar-Rasyid dan para pengawalnya meninggalkan
istana untuk berburu. Namun, di tengah perjalanan, salah satu pejabat kerajaan
yang bernama Abu Jahil menyusul dengan terengah-engah di atas kudanya.
“Baginda…
Baginda…. hamba mau mengusulkan sesuatu” katanya Abu Jahil mendekati sang Raja.
“Apa usulm itu wahai Abu Jahil?... tanya Raja.
“Agar
acara berburu ini menarik dan disaksikan banyak penduduk, bagaimana kalau kita
sayembarakan saja?” ujar Abu Jahil dengan raut wajah serius.
Baginda Raja terdiam sejenak dan mengangguk-angguk.
Baginda Raja terdiam sejenak dan mengangguk-angguk.
“Hamba
ingin beradu ketangkasan dengan Abunawas, dan nanti pemenangnya akan
mendapatkan sepundi uang emas. Tapi, kalau kalah, hukumannya adalah dengan
memandikan kuda-kuda istana selama 1 bulan” tutur Abu Jahil meyakinkan Raja.
Terompet
Sayembara Ditiup
Akhirnya sang Raja menyetujui usulan Abu Jahil tersebut. Hitung-hitung sayembara itu akan memberikan hiburan kepadanya. Maka, dipanggillah Abunawas untuk menghadap, dan setelah menghadap Raja Harun, Abunawas pun diberi petunjuk panjang lebar.
Akhirnya sang Raja menyetujui usulan Abu Jahil tersebut. Hitung-hitung sayembara itu akan memberikan hiburan kepadanya. Maka, dipanggillah Abunawas untuk menghadap, dan setelah menghadap Raja Harun, Abunawas pun diberi petunjuk panjang lebar.
Pada
awalnya, Abunawas menolak sayembara tersebut karena ia tahu bahwa semua ini
adalah akal bulus dari Abu Jahil yang ingin menyingkirkannya dari istana.
Tapi Baginda Raja Harun memaksa dan Abunawas tudak bisa menolak.
Tapi Baginda Raja Harun memaksa dan Abunawas tudak bisa menolak.
Abunawas
berpikir sejenak
Ia
tahu kalau Abu Jahil sekarang diangkat menjadi pejabat istana. Ia pasti
mengerahkan semua anak buahnya untuk menyumbang seekor binatang buruannya di
hutan nanti.
Namun
, karena kecerdikannya, Abunawas malah tersenyum riang. Abu Jahil yang melihat
perubahan raut muka Abunawas menjadi penasaran dbuatnya, batinnya berkata mana
mungkin Abunawas bisa mengalahkan dirinya kali ini.
Akhirnya, Baginda menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja dan seluruh rakyat menunggu, siapa yang bakal menjadi pemenang dalam lomba berburu ini.
Terompet tanda mulai adu ketangkasan pun ditiup. Abu Jahil segera memacu kudanya secepat kilat menuju hutan belantara. Anehnya, Abunawas justru sebaliknya, dia dengan santainya menaiki kudanya sehingga para penonton banyak yang berteriak.
Akhirnya, Baginda menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja dan seluruh rakyat menunggu, siapa yang bakal menjadi pemenang dalam lomba berburu ini.
Terompet tanda mulai adu ketangkasan pun ditiup. Abu Jahil segera memacu kudanya secepat kilat menuju hutan belantara. Anehnya, Abunawas justru sebaliknya, dia dengan santainya menaiki kudanya sehingga para penonton banyak yang berteriak.
Menjelang
sore hari, tampaklah kuda Abu Jahil memasuki pintu gerbang istana. Ia pun
mendapat sambutan meriah dan tepuk tangan dari rakyat yang menyaksikannya. Di
sisi kanan dan kiri kuda Abu Jahil tampak puluhan hewan yang mati terpanah. Abu
Jahil dengan senyum bangga memperlihatkan semua binatang buruannya di tengah
lapanangan.
“…Aku,
Abu Jahil berhak memenangkan lomba ini. Lihat..binatang buruanku banyak. Mana
mungkin Abunawas mengalahkanku?...” teriaknya lantang yang membuat para
penonton semakin ramai bertepuk tangan.
Ribuan
Semut
Tidak
berapa lama kemudian, terdengar suara kaki kuda Abunawas. Semua orang
mentertawakan dan meneriakinya karena Abunawas tak membawa satu pun binatang
buruan di kudanya.
Tapi,
Abunawas tidak tampak gusar sama sekali. Ia malah tersenyum dan melambaikan
tangan.
Baginda
Raja menyuruh kepada 2 orang pengawalnya maju ke tengah lapangan dan menghitung
jumlah binatang buruan yang didapatkan 2 peserta tersebut.
Dan
kesempatan pertama, para pengawal menghitung jumlah binatang hasil buruan dari
Abu Jahil.
“Tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima ekor rusa dan dua ekor babi hutan, kata salah satu pengawal”.
“Tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima ekor rusa dan dua ekor babi hutan, kata salah satu pengawal”.
“Kalau
begitu akulah pemenangnya karena Abunawas tak membawa seekor binatangpun,”
teriak Abu Jahil dengan sombongnya.
“Tenang…
tenang…. aku membawa ribuan binatang. Jelaslah aku pemenangnya dan engkau wahai
Abu Jahil, silahkan memandikan kuda-kuda istana. Menurut aturan lomba, semua
binatang boleh ditangkap, yang penting jumlahnya,” kata Abunawas sambil membuka
bambu kuning yang telah diisi dengan ribuan semut merah.
“Jumlahnya
sangat banyak Baginda, mungkin ribuan, kami tak sanggup menghitungnya lagi,”
kata pengawal kerajaan yang menghitung jumlah semut itu.
Melihat
kenyataan itu, Abu Jahil tiba-tiba saja jatuh pingsan. Baginda Raja tertawa
terpingkal-pingkal dan langsung memberi hadiah kepada Abunawas. Kecerdikan dan
ketulusan hati pasti bisa mengalahkan kelicikan.
Mengenai Saya
- FAHMI
- Trenggalek, JawaTimur, Indonesia
- Menulis membebaskanku. Membesarkanku. Memberanikanku. Aku menulis untuk berkaca. Aku menulis untuk melepaskan air mata. Aku menulis karena menulis menyembuhkan. Aku menulis untuk merapikan masa lalu. Dan lebih dari itu Aku menulis untuk menjadikanku manusia. Because Writers see the world differently. Every voice we hear, every face we see, every hand we touch could become story fabric.
Popular Posts
-
Bagi kalian yang suka bilang JANCOK. Uppsss…. Mungkin ada juga yang bilang DANCOK. Sadarkah kalian akan apa arti dari sebuah DANCOK…?????...
-
TUGAS MATA KULIAH PERTANIAN BERLANJUT “APLIKASI GIS untuk MENDUKUNG KEGIATAN PERTANIAN BERLANJUT di SKALA BENTANG LAHAN” NAMA :...
-
Dulu waktu SD saya sering tidak masuk sekolah tanpa alasan dan berita yang tidak jelas, suatu hari di dimarahi oleh guruku. Guru,...
-
DEFINISI PENYAKIT TANMAN Ilmu Penyakit Tumbuhan adalh ilmu yang mempelajari kerusakan yang disebabkan oleh organisme yang tergolong ke...
-
Tanaman cabai merah ( Capsicum annuum L .) termasuk dalam Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Solanales ...
-
Hama putih palsu, Cnaphalocrocis medinalis (Guen.) termasuk dalam famili Pyralidae, ordo Lepidoptera. Hama ini disebut sebagai hama p...
-
Tri Tunggal Usahatani adalah suatu konsep yang di dalamnya terdapat tiga foundasi atau modal dasar dari kegiatan usahatani. Tiga modal...
-
15 Oktober 1991, kira-kira pukul 23.15 kata ibuk aku dilahirkan di RSUD dr. Soedomo Trenggalek. Aku terlahir sebagai anak laki-laki. bapa...
-
Betapa indahnya menara Kuala Lumpur yang telah lama menjadi ikon parawisata negeri melayu. Menara yang tingginya mencapai 421m ini meru...
-
Morfologi Beauveria bassiana Cendawan Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemen, termasuk klas Deuteromycetes (Fungi imperfec...
Powered by Blogger.



