Rabu, 23 Mei 2012

Agroforesty


Disusun Oleh:
Muhammad Guruh Arif Zulfahmi / 105040201111091
Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya Malang
Abstrak
agroforestry adalah suatu nama kolektif untuk sistem tata guna lahan dan teknologi, dimana species tanaman keras (pohon, semak, bangsa palm, bambu dan sebagainya) secara sengaja dengan tujuan tertentu ditanam atau diusahakan pada unit manajemen lahan yang sama, dengan tanaman pertanian dan hewan, baik dalam bentuk tata ruang yang sama atau dalam penataan menurut urutan dimensi waktu. Di dalam agroforestry terjadi interaksi secara ekologis dan ekonomis antara komponen yang berbeda. Tanaman memberikan masukan bahan organik melalui daun-daun, cabang dan rantingnya yang gugur, dan juga melalui akar-akarnya yang telah mati. Daun pepohonan yang gugur dan hasil pangkasan yang dikembalikan ke dalam tanah dapat menjadi rabuk sehingga tanah menjadi remah.  Bahan organik tanah berperanan sangat penting dalam kesuburan tanah, baik sifat kimia, fisika maupun biologi tanah.
Key word: Agroforestry, bahan organik, sustainable

I.     PENDAHULUAN
Setiap orang berkepentingan terhadap tanah. Tanah sebagai sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai macam aktivitas guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanah sebagai sumberdaya yang digunakan untuk keperluan pertanian dapat bersifat sebagai sumberdaya yang dapat pulih (reversible) dan dapat pula sebagai sumberdaya yang dapat habis (Santoso, 1991). Dalam usaha pertanian tanah mempunyai fungsi utama sebagai sumber penggunaan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, dan sebagai tempat tumbuh dan berpegangnya akar serta tempat penyimpan air yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup tumbuhan.
Sejak manusia melakukan pertanian menetap, mulailah petani mengupayakan pengelolaan kesuburan tanah, yaitu dengan penambahan bahan organik untuk memulihkan kembali status hara dalam tanah. Perkembangan selanjutnya tidak terbatas pada penggunaan pupuk organik, namun juga dengan penggunaan pupuk buatan. Pada tahun enampuluhan terjadilah biorevolosi di bidang pertanian, yang dikenal sebagai revolosi hijau yang telah berhasil merubah pola pertanian dunia secara spektakuler.
Di Indonesia, sejak tahun 1968 terjadi peningkatan kebutuhan pupuk buatansecara tajam. Penggunaan pupuk buatan yang berkonsentrasi tinggi yang tidak proporsional ini, akan berdampak pada penimpangan status hara dalam tanah (Notohadiprawiro, 1989), sehingga akan memungkinkan terjadinya kekahatan hara lain. Di samping itu, petani mulai banyak yang meninggalkan penggunaan pupuk organik baik yang berupa pupuk hijau ataupun kompos, dengan anggapan penggunaan pupuk organik kurang efektif dan efisien, karena kandungan unsur hara dalam bahan organik yang relatif kecil dan lambat tersedia.
Akibat dari itu, akan berdampak pada penyusutankandungan bahan organik tanah, bahkan banyak tempat-tempat yang kandungan bahan organiknya sudah sampai pada tingkat rawan (Juarsah, I. 1999). Dilaporkan, sekitar 60 persen areal sawah di Jawa kadungan bahan organiknya kurang dari 1 persen (Sugito, et al., 1995). Sementara, sistem pertanian bisa menjadi sustainable (berkelanjutan) jika kandungan bahan organik tanah lebih dari 2 % (Handayanto, 1999).
Menyadari dampak negatif pada tanah dari pertanian yang boros energi tersebut, maka berkembanglah pada akhir-akhir ini konsep pertanian organik, yang salah satu langkah untuk pemeliharaan kesuburan tanahnya, adalah dengan penggunaan kembali bahan organik. Walaupun penggunaan bahan organik sudah bukan bahan yang baru lagi, namun mengingat betapa pentingnya bahan organik dalam menunjang produktivitas tanaman dan sekaligus mempertahankan kondisi lahan yang produktif dan berkelanjutan, maka pembahasan terhadap bahan organik tidak henti-hentinya untuk dikaji.

II.  PEMBAHASAN
Definisi Agroforestry
Agroforestry dipahami sebagai suatu pola perpaduan yang harmonis antara tanaman semusim, herba, perdu dan pepohonan yang dibudidayakan dalam suatu unit lahan yang penampilan fisik dan dinamikanya menyerupai hutan primer atau sekunder (Foresta dan Michon, 2000).
Reinjtjes dkk (1999) mengatakan bahwa rancangan agroforestry memperlihatkan perpaduan atau gabungan antara ciri ekosistem alami dan kebutuhan usaha tani. Oleh karena itu, agroforestry sebaiknya memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan sosial. Fungsi ekologis berarti memiliki nilai konservasi terhadap sumber daya alam dengan pemanfaatan yang berkelanjutan (sustainable use). Fungsi ekonomi berarti melalui pola agroforestry, pendapatan petani pengelola lahan agroforestry dapat ditingkatkan dengan cara diversifikasi kegiatan dan pengelolaan komponen agroforestry yang bernilai ekonomi tinggi. Fungsi sosial diartikan bahwa kegiatan agroforestry sedapat mungkin mudah dilaksanakan dan ditiru oleh masyarakat serta mampu merubah sikap masyarakat terhadap sistem pertainan yang bersifat subsistem menuju sistem pertanian yang komersil.
Vergara (1982) menyatakan bahwa agroforestry merupakan salah satu pola atau suatu sistem tata guna lahan yang lestari dan terpadu yaitu antara komponen tanaman budidaya (pertanian) dan tanaman pohon/kehutanan dengan atau tanpa komponen piaraan/peternakan atau perikanan ikan dan udang. Dengan demikian diharapkan produktivitas lahan menjadi optimal dan berkesinambungan. Factor manusia setempat (sosial, ekonomi dan budaya) perlu dijadikan pertimbangan, di samping faktor ekologi setempat (vegetasi, tanah, iklim, dan sebagainya).
Bagi daerah kering kehadiran pepohonan dalam sistem agroforestry selain berfungsi sebagai jaringan pengamanan daur hara juga menjaga kestabilan produktivitas (hasil panen per satuan luas ) dalam lahan model agroforestry. Ini disebabkan karena pepohonan memiliki sistem perakaran luas sehingga lebih tahan kering dibandingkan dengan tanaman semusim yang berakar dangkal (Reijntjes dkk,1999).
King dan Candra (1978), mengemukakan agroforestry adalah pola pengelolaan lahan yang dapat mempertahankan dan meningkatkan produktifitas lahan secara keseluruhan yang merupakan kombinasi kegiatan kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan, baik secara bersama maupun berurutan dengan menggunakan manajemen praktis yang disesuaikan dengan pola budaya penduduk setempat.
International Center for Research in Agroforestry/ICRAF (1983), mendefinisikan agroforestry adalah suatu nama kolektif untuk sistem tata guna lahan dan teknologi, dimana species tanaman keras (pohon, semak, bangsa palm, bambu dan sebagainya) secara sengaja dengan tujuan tertentu ditanam atau diusahakan pada unit manajemen lahan yang sama, dengan tanaman pertanian dan hewan, baik dalam bentuk tata ruang yang sama atau dalam penataan menurut urutan dimensi waktu. Di dalam agroforestry terjadi interaksi secara ekologis dan ekonomis antara komponen yang berbeda.
Djogo (1992), menyatakan bahwa agroforestry dianggap sebagai salah satu teknik dan pendekatan yang cukup baik untuk membantu pertanian lahan kering terutama di daerah pedesaan dimana, banyak petani masih subsistem atau sedang bergerak dalam upaya perbaikan sistem pertanian yang lebih mantap. Agroforestry pada dasarnya sudah merupakan teknik atau pendekatan atau sistem yang secara tradisional sudah dilakukan oleh petani dimana-mana atau hampir semua sistem pertanian lahan kering di NTT sudah menerapkan teknik agroforestry atau menggunakan pendekatan agroforestry.
Keuntungan dari argroforestry
Penggunaan teknologi agroforestry dapat memberikan keuntungan/ manfaat yang cukup besar bagi para pemilik lahan. Wiersum (1980), mengemukakan beberapa keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan teknik agroforestry yaitu sebagai berikut.
a) Sumber bahan organik
Daun pepohonan yang gugur dan hasil pangkasan yang dikembalikan ke dalam tanah dapat menjadi rabuk sehingga tanah menjadi remah. Berapa banyaknya masukan daun gugur setiap tahunnya?
b) Menekan gulma
Naungan pohon dapat menekan pertumbuhan gulma terutama alang-alang dan menjaga kelembaban tanah sehingga mengurangi risiko kebakaran pada musim kemarau. Adanya naungan dari pohon dapat memberikan keuntungan bagi tanaman tertentu yang menghendaki naungan misalnya kopi.
c) Mengurangi kehilangan hara
Akar pepohonan yang dalam dapat memperbaiki daur ulang hara, melalui beberapa cara, antara lain:
·         Akar pohon menyerap hara di lapisan atas dengan jalan berkompetisi dengan tanaman pangan, sehingga mengurangi pencucian hara ke lapisan yang lebih dalam. Namun pada batas tertentu kompetisi ini akan merugikan tanaman pangan.
·         Akar pohon berperan sebagai "jaring penyelamat hara" yaitu menyerap hara yang tidak terserap oleh tanaman pangan pada lapisan bawah selama musim pertumbuhan (lihat contoh kasus 5.1).
·         Akar pohon berperan sebagai "pemompa hara" terutama pada tanahtanah subur, yaitu menyerap hara hasil pelapukan mineral/batuan induk pada lapisan bawah. Namun hal ini masih bersifat hipotesis, dan masih perlu penelitian lebih lanjut.
d) Memperbaiki porositas tanah
Akar pepohonan berperan memperbaiki struktur tanah dan porositastanah, misalnya akar pohon yang mati meninggalkan lubang pori.
e) Menambat N dari udara
Pohon berbunga kupu-kupu (legume) dapat menambat N langsung dari udara, sehingga dapat mengurangi jumlah pupuk yang harus diberikan.
f) Menekan serangan hama & penyakit
Ada pepohonan yang dapat mengurangi populasi hama dan penyakit tertentu.
g) Menjaga kestabilan iklim mikro
Pepohonan yang ditanam cukup rapat dapat menjaga kestabilan iklim mikro, mengurangi kecepatan angin, meningkatkan kelembaban tanah dan memberikan naungan parsial (misalnya Erythrina (dadap) pada kebun kopi).
h) Mengurangi bahaya erosi
Untuk jangka panjang mengurangi bahaya erosi, melalui pengaruhnya terhadap perbaikan kandungan bahan organik tanah dan struktur tanah.

Kelemahan dari Agroforestry diantaranya adalah:
·         Segi kesuburan tanah.
Masyarakat sering dihadapkan pada dua pilihan yang berlawanan, di satu sisi petani mengharapkan pohon yang cepat pertumbuhannya dengat tujuan cepat memperoleh produksi, tetapi kenyataannya pohon ini justru memiskinkan tanah. Ada 2 hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan pohon, bahwa produksi biomasa berhubungan erat dengan besarnya intersepsi cahaya; dan produksi biomasa dengan jumlah transpirasi air. Bila stomata membuka, maka CO2 dapat memasuki daun untuk dipergunakan dalam proses fotosintesis. Dengan kejadian yang sama, air juga dapat menguap ke atmosfer. Jadi memilih pohon yang pertumbuhannya cepat, petani harus mempertimbangkan pula penyediaan energi yang dibutuhkan tanaman tersebut.
Pernah pula dikeluhkan oleh petani bahwa pohon yang mereka tanam, perannya sedikit terhadap perbaikan kesuburan tanah karena jumlah seresah yang jatuh tidak terlalu banyak sehingga tanah tetap saja keras dan sulit diolah.
·         Segi pertumbuhan tanaman lain.
Menanam pohon yang tumbuh tinggi menjulang dengan bentuk percabangan yang menyebar luas dalam sistem campuran akan merugikan tanaman lain terutama bila yang ditanam adalah tanaman pangan. Keberadaan pohon dianggap sebagai kompetitor bagi tanaman pangan karena adanya kompetisi akan cahaya, air dan hara.Jadi untuk memperoleh keuntungan agroforestri yang optimal, maka diperlukan ketrampilan khusus dalam mengelola tanaman. Untuk itu diperlukan pemahaman yang mendalam akan adanya interaksi antar komponen penyusun agroforestri (Pohon-tanah-tanaman semusim dan ternak bila ada).
·         Kompetisi cahaya
Pohon biasanya tumbuh lebih tinggi daripada tanaman semusim, oleh karena itu kanopi pohon akan menaungi tanaman semusim.
·         Kompetisi air dan hara
Akar pepohonan dan tanaman semusim yang berkembang di lapisan yang sama akan saling berebut air dan hara sehingga mengurangi jumlah yang dapat diserap tanaman semusim. Kompetisi antara dua jenis tanaman terjadi bila kedua jenis tanaman (atau lebih) membutuhkan sumberdaya yang sama dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan tersebut terbatas. Tanaman yang pertumbuhannya cepat membutuhkan cahaya, air dan hara
yang lebih banyak. Oleh karena itu pemilihan pohon dalam sistem agroforestri harus mempertimbangkan kecepatan tumbuhnya serta kebutuhan tanaman lain yang tumbuh pada lahan yang sama.
·         Inang penyakit
Seringkali pepohonan dapat menjadi inang hama dan penyakit untuk tanaman semusim.

Perbaikan Kesuburan Tanah Oleh Agroforestri
Penerapan sistem agroforestri tradisional maupun modern sangat terkait dengan komponen tanah dan pengelolaannya. Beberapa sistem pertanian tradisional misalnya ‘ladang berpindah’ dan sistem multistrata pohon (kebun campuran) seringkali terpaksa dilakukan untuk tujuan pemulihan dan pemeliharaan kesuburan tanah. Penerapan sistem penggunaan lahan denganmemasukkan komponen pepohonan atau agroforestri dapat memberikan beberapa keuntungan terhadap tanah. Menurut Young (1997) ada empat keuntungan yang diperoleh melalui penerapan agroforestri antara lain adalah: (1) memperbaiki kesuburan tanah, (2) menekan terjadinya erosi (3) mencegah perkembangan hama dan penyakit, (4) menekan populasi gulma. Peran utama agroforestri pada skala plot adalah dalam mempertahankan kesuburan tanah, antara lain melalui empat mekanisme: (1) mempertahankan kandungan bahan organik tanah, (2) mengurangi kehilangan hara ke lapisan tanah bawah, (3) menambah N dari hasil penambatan N bebas dari udara, (4) memperbaiki sifat fisik tanah.

Fungsi Bahan Organik Tanah (BOT)

Bahan organik tanah berperanan sangat penting dalam kesuburan tanah, baik sifat kimia, fisika maupun biologi tanah. Dari segi kimia, BOT berperanan penting dalam menambah unsur hara dan meningkatkan kapasitas tukar kation (penyangga hara = buffer). Meningkatnya kapasitas tukar kation tanah ini dapat mengurangi kehilangan unsur hara yang ditambahkan melalui pemupukan, atau dari hasil mineralisasi BOT, sehingga BOT dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.
Dari segi fisika tanah, tingginya kandungan BOT dapat mempertahankan kualitas sifat fisik tanah sehingga membantu perkembangan akar tanaman dan kelancaran siklus air tanah antara lain melalui pembentukan pori tanah dan kemantapan agregat tanah. Dengan demikian jumlah air hujan yang dapat masuk ke dalam tanah (infiltrasi) semakin meningkat sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi. Selain itu bahan organik mampu mengikat air
dalam jumlah besar, sehingga dapat mengurangi jumlah air yang hilang. Dari segi biologi tanah, bahan organik tanah juga memberikan manfaat biologi melalui penyediaaan energi bagi berlangsungnya aktivitas organisme, sehingga meningkatkan kegiatan organisme mikro maupun makro di dalam tanah.

Bagaimana agroforestri dapat mempertahankan kandungan bahan organik tanah?

Agroforestri dapat mempertahankan kandungan bahan organik tanah melalui:

a. Masukan bahan organik dari hasil pangkasan pohon
Pada musim penghujan, petani sering juga melakukan pemangkasan cabang dan ranting pohon yang sudah terlalu tinggi sehingga keberadaannya tidak akan menggangu pertumbuhan tanaman lainnya. Hasil pangkasan bisa dikembalikan ke dalam tanah atau diangkut ke luar plot untuk pakan ternak atau untuk tujuan lainnya. Jumlah hasil pangkasan yang di kembalikan ke dalam plot tidak kalah besarnya dengan jumlah seresah yang masuk lewat daun yang gugur. Bahan organik hasil pangkasan tersebut mengandung N berkisar antara 100 -270 kg N ha-1, yang berarti sama dengan memperoleh pupuk urea sekitar 200-400 kg ha-1.

b. Masukan dari seresah
Tanaman memberikan masukan bahan organik melalui daun-daun, cabang dan rantingnya yang gugur, dan juga melalui akar-akarnya yang telah mati. Contoh dari tanah masam di Lampung Utara, pohon petaian (Peltophorum) monokultur memberikan masukan seresah (daun, batang, ranting yang jatuh) sekitar 12 Mg ha-1 th-1; gamal (Gliricidia) monokultur sekitar 5 Mg ha-1 th-1. Sedang hutan sekunder memberikan masukan sekitar 8-9 Mg ha-1 th-1. Seresah yang jatuh di permukaan tanah dapat melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan dan mengurangi penguapan. Tinggi rendahnya peranan seresah ini ditentukan oleh ‘kualitas’ bahan organik tersebut. Semakin rendah ‘kualitas’ bahan (bila nisbah C/N, lignin/N dan polifenol/N tinggi), maka semakin lama pula bahan tersebut dilapuk, sehingga terjadi akumulasi seresah yang cukup tebal pada permukaan tanah hutan.  Pada sistem berbasis pohon ini akumulasi seresah pada permukaan tanah bervariasi antara 3-7 ton ha-1. Bila kandungan C dalam biomasa sekitar 45%, maka masukan C ke dalam tanah sekitar 1,5 – 3 ton ha-1. Pangkasan tajuk tanaman penutup tanah darikeluarga kacang-kacangan (LCC = legume cover crops) dapat memberikan masukan bahan organik sebanyak 1.8 – 2.9 ton ha-1 (umur 3 bulan) dan 2.7 – 5.9 ton ha-1 untuk yang berumur 6 bulan.

Berapa jumlah masukan bahan organik yang dibutuhkan?
Telah disebutkan di atas bahwa masukan bahan organik dari atas permukaan tanah memberikan pengaruh yang menguntungkan untuk mempertahankan kesuburan tanah terutama di lapisan atas. Untuk mendapatkan kondisi tanah yang optimal bagi pertumbuhan tanaman, diperlukan adanya bahan organik tanah (Ctotal) di lapisan atas paling sedikit 2% (Young, 1989). Jumlah tersebut hanya didasarkan pada taksiran kasar saja. Jumlah tersebut harus dikoreksi oleh kandungan liat dan pH tanah. Dengan demikian target kandungan BOT
yang optimal ini bervariasi untuk berbagai macam tanah, tergantung pada tekstur dan pH nya. Untuk itu Van Noordwijk, 1989 menyarankan target ratarata kandungan BOT untuk berbagai jenis tanah di daerah tropika sebaiknya sekitar 2,5-4%. Guna mempertahankan kesuburan tanah pertanian, maka tanah harus selalu ditambah bahan organik minimal sebanyak 8-9 ton ha-1 th-1 (Young, 1989).

Bagaimana memilih bahan organik yang tepat?
Pemberian bahan organik ke dalam tanah seringkali memberikan hasil yang kurang memuaskan, sehingga banyak petani tidak tertarik untuk melakukannya. Hal ini disebabkan kurangnya dasar pengetahuan dalam memilih jenis bahan organik yang tepat. Pemilihan jenis bahan organik sangat ditentukan oleh tujuan pemberian bahan organik tersebut. Tujuan pemberian bahan organik bisa untuk penambahan hara atau perbaikan sifat fisik seperti mempertahankan kelembaban tanah yaitu sebagai mulsa. Pertimbangan pemilihan jenis bahan organik didasarkan pada kecepatan dekomposisi atau melapuknya. Bila bahan organik
akan dipergunakan sebagai mulsa, maka jenis bahan organik yang dipilih adalah dari jenis yang lambat lapuk. Apabila digunakan untuk tujuan pemupukan bisa dari jenis yang lambat maupun yang cepat lapuk. Kecepatan pelapukan suatu jenis bahan organik ditentukan oleh kualitas bahan organik tersebut. Sedangkan kualitasnya ditetapkan dengan menggunakan
seperangkat tolok ukur, di mana untuk setiap jenis unsur hara tolok ukur tersebut bisa berbeda-beda.
· Kualitas bahan organik berkaitan dengan penyediaan unsur N, ditentukan oleh besarnya kandungan N, lignin dan polifenol. Bahan organik dikatakan berkualitas tinggi bila
kandungan N tinggi, konsentrasi lignin dan polifenol rendah. Yang juga penting adalah memiliki sinkronisasi pelepasan hara dengan saat tanaman membutuhkannya. Nilai kritis konsentrasi N adalah 1.9%; lignin > 15% dan polifenol > 2%.
· Kualitas bahan organik berkaitan dengan penyediaan unsur P, ditentukan oleh konsentrasi P dalam bahan organik. Nilai kritis kadar P dalam bahan organik adalah 0.25%.
· Kualitas bahan organik berkaitan dengan detoksifikasi Al. Bahan organik mampu menetralisir pengaruh racun dari aluminium sehingga menjadi tidak beracun lagi bagi akar tanaman. Kemampuan merubah pengaruh suatu zat beracun menjadi tidak beracun ini disebut dengan detoksifikasi. Kualitas bahan organik berkaitan dengankemampuan dalam mendetoksifikasi ditentukan dengan tolok ukur total konsentrasi kation K, Ca, Mg dan Na. Pelepasan kation-kation tersebut dari hasil dekomposisi bahan organik dapat menekan kelarutan Al melalui peningkatan pH tanah.

III.   KESIMPULAN
Dari uraian di atas jelas bahwa setiap komponen penyusun agroforestri berperan dalam mengubah lingkungannya. Perubahan lingkungan ini dapat merugikan ataupun menguntungkan komponen yang lain baik dalam jangka pendek maupun panjang. Keberhasilan usaha pertanian dengan menggunakan sistem agroforestri sangat tergantung pada tingkat pemahaman interaksi antara pohon-tanah-tanaman semusim. Pemahaman interaksi ini dapat berdasarkan pengamatan, pengalaman, maupun penelitian di lapangan. Model simulasi interaksi pohon-tanah-tanaman ini, contohnya WaNuLCAS, sangat membantu dalam memahami proses-proses yang terjadi. Pengalaman menunjukkan bahwa pada dasarnya pengelolaan agroforestri terletak pada usaha menekan pengaruh yang merugikan dan mengoptimalkan pengaruh yang menguntungkan, dengan mengatur penampilan fisik dan morfologi pohon.
 
DAFTAR ISI
Djogo, A.P.Y. 1992. Agroforestrydan Sumbangan bagi PembangunanPertanian di NusaTenggara. Kupang: Politani.
Rusmarkam, A. 2000. Ilmu Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu Tanah. UGM. Yogyakarta.
Sugito, Y. Nuraini, Y. dan Nihayati, E. 1995. Sistem Pertanian Organik. Faperta
Unibraw. Malang.
Young, 1997. Agroforestry for soil management. Second edition. CABI International.
      ISBN 0 85199 1890, 320 pp.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar